Wae Rebo

Desa Wae Rebo merupakan desa yang berada di Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Terkenal dengan sebutan desa di atas awan, Desa Wae Rebo ini terletak di ketinggian 1.200 mdpl yang dikelilingi oleh perbukitan yang ditumbuhi pepohonan yang menyejukkan. UNESCO memberikan penghargaan Top Award of Excellence pada UNESCO Asia Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation tahun 2012 di Bangkok. Desa Wae Rebo menempati peringkat kedua sebagai kota kecil terindah di dunia versi majalah Time Out. Kemudian pada tahun 2021 lalu, desa ini menjadi salah satu dari 3 desa yang mewakili Indonesia dalam ajang Best Tourism Village.

Desa Wae Rebo berawal dari migrasi pelayar Minangkabau yang bernama Empo Maro dan keluarga untuk menghindari konflik dari serbuan penjajah pada abad ke-18 di Manggarai. Untuk menyembunyikan kolonialisme, mereka mencari tempat yang aman dan memutuskan untuk mendirikan pemukiman di lokasi terpencil ini. Sesuai dengan kebudayaan asli Manggarai, mereka membangun rumah-rumah adat dengan bentuk yang sangat ikonik bernama Mbaru Niang. Rumah ini berbentuk kerucut dan terbuat dari jerami yang menjadi ciri khas otentik desa adat ini. Para penduduk setempat membangun rumah-rumah ini dari bahan-bahan alami yang mereka dapat dari lingkungan sekitar, hal ini menjadi bukti kejeniusan arsitektur Indonesia pada jaman dahulu kala. Sobat wisata, arti dari Mbaru Niang sendiri adalah Mbaru berarti rumah, sedangkan kata Niang berarti tinggi dan bulat.

Jika berkunjung ke Wae Rebo, sobat wisata bisa menyaksikan Upacara Penti, sebuah bentuk syukur masyarakat lokal kapada Tuhan dan leluhur untuk musim panen yang baik serta berkah untuk tahun mendatang. Mulai dari persembahan makanan khusus, tarian hingga nyanyian asli menjadi sebuha pengalaman yang berkesan bagi para wisatawan. Upacara Penti tidak menjadi satu-satunya ritual yang ada pada desa ini. Caci juga menjadi pertunjukan yang ditunggu oleh para wisatawan. Pemuda asli desa Wae Rebo mempertunjukkan kebolehan bela diri dan seni berperang satu sama lain lengkap dengan senjata cambuk dan perisai. Meskipun tampak seperti pertarungan ,Caci juga menjadi simbol kehebatan. Ritual ini melibatkan serangkaian tradisional, nyanyian, dan persembahan makanan yang disiapkan oleh seluruh masyarakat.

BAGAIMANA RUTE MENUJU DESA WAE REBO?
Jika sobat wisata berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Surabaya, dll, sobat wisata bisa menggunakan transportasi udara kemudian turun di Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Ruteng dengan bus atau bisa juga menyewa kendaraan pribadi seperti mobil atau motor. Dari Ruteng dilanjutkan ke Desa Denge yang berjarak sekitar 6 km, ini adalah desa terakhir sebelum memulai treking ke Desa Wae Rebo. Setelah itu dari desa Denge dilanjutkan melakukan pendakian selama kurang lebih 3 jam. Sobat wisata akan melewati daerah terpencil dengan dikelilingi pemandangan hutan dan juga menyeberangi sungai serta melintasi beberapa jurang. Perjalanan yang begitu panjang itu terbayarkan oleh keindahan alam dan udara sejuk disertai pemandangan gunung yang dipenuhi hujaunya pepohonan di Desa Waerebo.

TIPS PENTING MENUJU DESA WAE REBO
Berikut beberapa tips dan rekomendasi saat berwisaa ke Desa Wae Rebo:

  1. Persiapan fisik. Treking ke Wae Rebo cukup menantang, jadi pastikan kondisi fisik sobat wisata prima, yaa.
  2. Membawa makanan dan minuman. Untuk berjaga-jaga jika tidak cocok dengan makanan yang disuguhkan, sobat wisata perlu membawa makanan cadangan. Minuman yang dibawa juga sangat berguna untuk menemani perjalanan saat mendaki, walaupun dalam perjalanan sobat wisata akan menemukan sumber mata air yang dapat diminum.
  3. Membawa jas hujan. Perlu sobat wisata ketahui bahwa saat mendaki ke Desa Wae Rebo sering terjadi hujan, maka disarankan membawa jas hujan.
  4. Membawa obat-obatan. Saat melakukan pendakian, sobat wisata disarankan membawa obat-obatan pribadi untuk berjaga-jaga.
  5. Membawa Jaket. Karena desa ini berada di ketinggian 1.200 mdpl, maka sobat wisatawan harus memakai atau membawa jaket yang cukup tebal karena udara di Wae Rebo sangat dingin.
  6. Siapkan tarif masuk. Berikut adalah daftar tarif saat mengunjungi desa Wae Rebo:
  • Biaya masuk dikenakan tarif Rp 225.000/orang. Fasilitas yang didapat yaitu makan pagi atau siang dan juga makan malam ditambah dengan welcome drink seperti kopi atau teh.
  • Biaya masuk ditambah menginap dikenakan tarif Rp 325.000/orang. Fasilitas yang didapat yaitu makan pagi atau siang dan juga makan malam ditambah ditambah dengan welcome drink seperti kopi atau teh, selain itu sobat wisata juga disiapkan kasur lipat dan selimut.
  • Jika sobat wisata menggunakan jasa pemandu wisata, maka akan dikenakan tarif Rp 250.000/orang.

Similar Posts

  • Pantai Cepi Watu

    Halo Sobat Wisata! ☀️ Sobat Wisata, saatnya menjelajah keindahan tersembunyi di pesisir timur Flores! Pantai Cepi Watu di Kabupaten Manggarai Timur adalah surga kecil yang menanti untuk kamu jelajahi. Dengan hamparan pasir hitam kecoklatan yang lembut dan air laut sebening kristal berwarna biru, pantai ini menawarkan suasana alami yang masih asri dan jauh dari hiruk-pikuk….

  • Kompleks Rumah Adat – Moni Koanara

    Salah satu kekayaan budaya di Nusa Tenggara Timur adalah keberadaan kebudayaan Megalitik yang masih hidup selama ribuan tahun. Ciri Kebudayaan Megalitik adalah penggunaan batu-batu besar yang digunakan untuk struktur bangunan hunian, dan struktur bangunan yang digunakan untuk ritual seperti tugu batu (menhir), meja batu (dolmen), dan kubur batu (sarkofagus). Salah satu situs kebudayaan megalitik yang…

  • Asal Usul dan Sejarah Tarian Caci yang Berasal dari Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur

    Tarian caci merupakan salah satu kesenian tradisional sejenis tarian perang khas dari masyarakat Manggarai di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Tarian caci bukan hanya dimaknai sebuah seni, tapi tarian caci juga merupakan identitas masyarakat Manggarai. Hal tersebut dikarenakan tarian caci adalah bagian dari budaya Manggarai yang secara turun menurun. Tarian caci tidak muncul begitu saja…

  • Kampung Adat Namata

    Menyelami Jejak Leluhur di Jantung Sabu Raijua Di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah kampung adat yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan budaya masyarakat setempat. Kampung Adat Namata bukan sekadar permukiman, tetapi sebuah warisan hidup yang menyimpan kisah leluhur, ritual sakral, dan nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga hingga hari ini….

  • Danau Ranamese

    Halo Sobat Wisata! ☀️ Sobat Wisata, siap menyapa alam dalam versi paling asrinya? Mari luangkan waktu untuk menjelajah ke salah satu permata tersembunyi di dataran tinggi Flores, yakni Danau Ranamese. Terletak di jantung Kabupaten Manggarai Timur, danau ini membentang tenang di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh hutan tropis lebat yang…

  • Air Terjun Cunca Wulang

    Di jantung hijau Manggarai Barat, tersembunyi sebuah permata alam yang menanti untuk dijelajahi—Air Terjun Cunca Wulang. Terletak sekitar satu jam perjalanan dari pusat Labuan Bajo, air terjun ini menawarkan petualangan menembus hutan tropis, panorama tebing batu yang menjulang, dan suara gemuruh air yang menenangkan hati. Cunca Wulang bukan sekadar tempat untuk melihat air jatuh dari…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *